Refleksi 53 Tahun Dayah Inshafuddin

Oleh Muhammad Syarif, SHI,M.H*

Gerakan Politik kedayahan secara kelembagaan dimulai sejak Tahun 1967. Gerakan ini saya menyebutnya gerakan pemurnian ajaran Islam. Gerakan yang digagas oleh Abu Muhammad Daud Zamzami dan Abu Nasruddin Daud.

Untuk mematangkan konsepnya Abu Muhammad Daud Zamzami yang juga Alumni Dayah Darussalam Labuhan Haji, melakukan silaturrahmi dengan para pimpinan Dayah se-Aceh, atau ulama kharismatik Aceh sebut saja Abu Krueng Kale (Tgk. H. M.Hasan), Abu Muhammad Amin Ribe, Abon Azis Samalanga, Abu Tumin, Abu Tano Merah, Abu Ali Jadon (Aceh Tengah), Abu Ule Madon, Tgk Ahmad Qari, Abu Sulaiman Lhoksukon, Tgk. Muhammad Amin Rawa Itek, Panton Labu, Abu Krueng Lintang, Idi Aceh Timur, Abu Usman Basyah, Abu Zamzami Syam dan Tgk. Badaruddin (Sigkil), Abu Ulee Titi, Abu Seulimum (Abu Wahab) serta beberapa ulama kharismatik lainnya.

Gerakan Politik Dayah tersebut melahirkan organisasi pemersatu dayah yang benama PB Dayah Inshafuddin, tepatnya 4 Februari 1968. Organisasi ini bertujuan mengembalikan kejayaan dan kemurnian Islam sekaligus mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh agar memberikan perhatian khusus bagi kemajuan dayah di Aceh.

Keberadaan PB Inshafuddin sebagai wadah konsolidasi ulama dayah sekaligus wadah curah pendapat ulama-ulama dayah kala itu cukup menonjol, bahkan beberapa kebijakan strategis Pemerintah Aceh kala itu mengambil rujukan pandangan dari organisasi ini. Lahirnya Badan Pembinaan Dayah yang kini menjadi Disdik Dayah, Standarisasi Kurikulum Dayah sesungguhnya bagian dari ikhtiar Persatuan Ulama Dayah Inshafuddin.

Tentu di erah milenial ini kiprah Ulama Dayah yang terhimpun dalam “PB Inshafuddin” hampir tidak kedengaran lagi, bahkan cendrung tenggelam. Pandangan ini muncul dari peserta saat bedah buku karya Prof. Dr.M.Hasbi Amiruddin, MA yang berjudul “Persatuan Dayah Inshafuddin Organisasi Ulama Penjaga Akidah Umat, Milad ke-53 Tahun, 4 Februari 2021 di Hotel Daka, Lampriet, Banda Aceh.

Beberapa isu keagamaan dibahas di Rapat Kerja dan Kajian Ilmiah lainnya, sebut saja persoalan zakat profesi, Bayi Tabung serta berbagai persoalan sosial keagamaan dan politik di bahas oleh ulama dayah yang tergabung dalam wadah “PB Inshafuddin”. Beberapa kajian Ulama Dayah Inshafuddin menjadi bahan kajian ilmuan dunia, ungkap Prof. Hasbi Amiruddin, MA.

Dalam bidang pendidikan PB Inshafuddin melahirkan Dayah Terpadu Inshafuddin, tentu kita berharap eksistensi PB Inshafuddin benar-benar sebagai pemersatu ulama sekaligus ikut ambil bagian dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis Pemerinta Aceh dalam berbagai bidang demi kemajuan pendidikan Agama Islam, khususnya kemajuan Dayah di Aceh. Krue semangat…tahniah ke-53, teruslah berkiprah demi kemajuan pendidikan dayah di Aceh.


*Sekjen DPP ISKADA Aceh, salah seorang peserta Bedah Buku Milad-53 Tahun Inshafuddin

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *