Pemikiran Kaum Tua dan Kaum Muda

Oleh Deni Tegar Anjasmara*

Setelah Jepang menyerah pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945, status Jepang tidak lagi memerintah Indonesia tetapi hanya berfungsi sebagai penjaga, yakni menjaga situasi, kondisi seperti pada masa perang dan adanya perubahan-perubahan di Indonesia. Sampai Sekutu mengambil alih kekuasaan atas semua wilayah jajahan Jepang. Tentu saja kemerdekaan tidak mungkin bisa didapat dari Jepang .

Disaat itu Indonesia mengalami Vacum of Power (kekosongan kekuasaan) akibat kekalahan Jepang. Sebelumnya kemerdekaan telah dijanjikan oleh Jepang kepada Indonesia. Lantas, siapa yang memberikan kemerdekaan Indonesia jika Jepang sudah dikalahkan? Jika kemerdekaan tidak diproklamirkan, maka pada 15 Agustus 1945, golongan muda dan Soekarno-Hatta belum bisa mengambil keputusan. Pasalnya, kemerdekaan yang dijanjikan oleh jepang akan diberikan pada 27 Agustus 1945, dan Soekarno mencoba menaati janji itu. Hatta juga masih meragukan berita yang dibawa oleh Syahrir.

Golongan tua yang merupakan orang-orang yang cukup kooperatif kepada tentara jepang, enggan untuk kemerdekaan segera diproklamirkan. Janji yang telah diberikan, membuat para golongan tua tak ingin terburu-buru. Selain itu, kedudukan Jepang di Indonesia masih cukup kuat, dan para golongan tua tak ingin ada pertumpahan darah terjadi.

Lain halnya dengan golongan tua, golongan muda merasa indonesia sudah cukup kuat untuk menyatakan kemerdekaannya. Wikana sebagai perwakilan golongan muda mendesak Bung Karno untuk mengumumkan kemerdekaan. Mereka pun semakin geram dengan keputusan golongan tua yang dinilai terlalu bergantung dengan janji yang diberikan jepang. Akhirnya, mereka menginisiasi untuk melakukan penculikan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.

Dilain tempat, ketika gerakan DI/TII yang dipelopori oleh Teungku Daud beureueh melakukan perlawanan pertama kali pada 20 September 1953 disebabkan karena kekecewaan masyarakat Aceh terhadap berbagai kebijakan Pemerintah Pusat yang dianggap tidak sesuai dengan kesepakatan awal perjanjian, yang mana dalam insiden ini masyarakat Aceh juga terbagi kepada dua golongan besar. Dari Kaum Muda dipimpin oleh Daud beureueh dan beberapa tokoh lainnya dan dipihak Kaum Tua dipimpin oleh dua orang Ulama Kharismatik Aceh ketika itu yakni Abu Hasan Krueng Kalee dan murid beliau Abuya Syekh Muda Waly Al-Khalidy.

Menurut pendapat dari Kaum Muda menyatakan bahwa gerakan ini merupakan pilihan yang paling tepat untuk menyikapi kebijakan yang tidak sesuai dari Pemerintah Negara ketika itu. Akan tetapi menurut pandangan dari kaum tua, menyatakan bahwa gerakan ini merupakan bughah (pemberontakan) terhadap pemerintah karena pada awalnya Daud beureueh sudah menyetujui bahwa Sukarno sebagai pimpinan tertinggi ketika melakukan perlawanan terhadap Belanda pada Juni 1948.

Selanjutnya masih dalam rana pembahasan yang sama seperti tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina akibat penjajahan dari ISRAEL sejak Juni 1967 yang telah berlarut-larut terjadi hingga hari ini. Dalam melakukan perjuangan untuk membela hak-haknya, rakyat Palestina dalam hal ini juga memiliki dua kubu besar dari kaum muda dan kaum tua yang juga saling memperjuangkan Kemerdekaan bangsanya dengan prinsipnya masing-masing.

Dari Kaum Tua disamping pengalaman hidup panjang dalam melihat kesedihan bangsanya, mereka lebih memilih untuk melakukan usaha berdamai dengan musuh bebuyutannya ISRAEL dikarenakan tidak menginginkan bertambahnya jumlah korban tewas dan kerugian di sana-sini akibat konflik yang seakan tidak berujung.

Namun dari kaum muda masih sama seperti berlakunya sejarah bahwa prinsip dasar yang diambil tetaplah berjuang dengan cara angkat senjata. Tidak peduli kehilangan apalagi yang harus dirasakan oleh mereka. Mungkin secara biologis alasanya adalah jiwa mereka yang masih sangat muda dan panas untuk melakukan berbagai serangan dalam mengekspresikan emosi mereka terhadap kekejaman para penjajah yang telah merenggut segalanya dari mereka.

Akan tetapi dalam segi lainnya secara psikologis mereka sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Zionis Yahudi yang telah menginjak-injak harga diri Bangsa dan Agamanya walaupun mereka tahu bahwa kemenangan hanya baru didapat ketika Imam Mahdi telah muncul dan Nabi Isa telah turun dipintu gerbang kota Damaskus Timur tepatnya di Menara Putih Masjid Bani Umayyah.

Dan masih banyak lagi bentuk pemikiran antara Kaum Muda dan Kaum Tua yang saling berseberangan di berbagai tempat serta momentum tertentu.
Namun adalah hal yang paling harus digaris bawahi disini ialah walaupun konflik pemikiran ini akan terus menerus terjadi, ada baiknya kita belajar untuk dapat menjadi Negosiator utama antara dua pihak yang sebenarnya memiliki konsep dan alasan perjuangan yang sama agar dapat menciptakan sebuah tujuan yang seharusnya dicapai.

Dan mungkin inilah salah satu tugas pokok dari saya selaku Ketua DPW ISKADA Banda Aceh yang baru untuk bisa menyatukan kerenggangan (walaupun mungkin akan terlihat seperti kusutan bekas lipatan kertas) antara Kaum Muda dan Kaum Tua yang mana fenomena ini juga sempat terjadi beberapa waktu yang lalu dalam tubuh keorganisasian kita ini. Kerena ketika Konflik internal telah terjadi, maka artinya akan sangat mudah bagi musuh-musuh kita untuk membuat kita semakin terbelah dan lebih terpuruk.

Maka dari itu, saya memohon bimbingan dan dukungan dari para senior dan orang tau saya di sini, karena saya masih sangat muda dan sangat awam untuk memegang kendali Kepemimpinan Organisasi Pelajar yang sangat hebat ini walaupun hanya dalam bentuk wilayah.

*Penulis adalah Ketua DPW ISKADA Kota Banda Aceh

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *