Meudrah Ala Kader ISKADA

Oleh Muhammad Syarif*

Berawal dari bincang santai dengan Tgk. Nasrul Zahidy, S.Sos di pojok Ata Kupi, kami mencoba menghidupkan Meudrah (baca kajian Ilmu Tauhid) bagi kader dan masyarakat sekitar di Markaz DPP ISKADA Aceh, Lambhuk Kecamatan Ulee Kareng.

Pagi itu udara sepoi-sepoi, kicauan burung sangat merdu terdengar di pusaran Blang Padang, Kecamatan Baiturrahman. Goyangan lidah dengan roti silai samahani flus sanger dingin menambah suasana bincang ringan menjadi sempurnah.

Singkat kata, Meudrah harus jalan. Diksi kata yang disepakati di Baliho, Komplek DPP ISKADA Aceh “Kajian Bulanan” setiap malam rabu pukul 20.30 Wib (ba`dha isya), Nasrulpun mengamininya.

Bincang-bincang hangat pun mengalir dengan suasana cair. Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Akhirnya Nasrul memutuskan mengakhiri perbincangan dikarenakan ada agenda lain. Kami pun berdua akhirnya minta pamit. Guna memastikan semua berjalan sesuai rencana besoknya saya langsung mendesain baliho dan mencetaknya. Kala itu juga Muhammad Ikram Al Mubarak, SH, kami tunjuk sebagai koordinator pengajian, tanpa basa-basi subuh minggu baliho itu terpasang.

Kami cuma bermimpi tradisi meudrah ini akan menjadi pemantik keilmuan, ini adalah awal mula dalam menghidupkan aktivitas keilmuan, selanjutnya silahkan kader “bergimnastik keilmuan” sesuai selera. Yang penting kita telah memulainya. Menjaga konsistensi gerakan ini adalah tugas bersama. Ibaratnya cahroet telah kami lakukan dengan meudrah perdana yang dihadiri kurang lebih 10 orang.

*Penulis adalah Sekjen DPP ISKADA Aceh

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *