Memberikan Ruang

Oleh Deni Tegar Anjasmara*

Di Benteng Tikrit, sebuah kota tua yang jaraknya lebih dekat ke Baghdad daripada ke Mosul. Di ujung dataran tinggi kota ini berdiri sebuah benteng kokoh menghadap ke sungai Dajlah. Benteng ini dibangun oleh bangsa Persia sejak zaman dahulu, di atas sebuah batu karang besar dan mereka menjadikannya sebagai gudang penyimpanan kekayaan, sekaligus sebuah menara pengintai musuh. Benteng ini berhasil direbut oleh kaum Muslimin pada tahun ke 635 M di masa kekuasaan Khalifah Umar bin Khatthab r.a.

Di antara keajaiban takdir adalah bahwa kelahiran seorang bayi pada tahun 532 H (1137 M) di benteng ini yang kelak akan menjadi pemersatu kekuatan Islam dibawah kepemimpinannya -yang kemudian hari dikenal sebagai Salahuddin/ Saladin- bertepatan dengan keluarnya perintah dari Mujaduddin Bahruz, penguasa Baghdad kepada Najmuddin Ayyub dan saudaranya Asaduddin Syirkuh, agar meninggalkan Kota Tikrit. Perintah tersebut dikeluarkan menyusul pembunuhan yang dilakukan oleh Syirkuh -paman Salahuddin- terhadap salah seorang komandan benteng. Pembunuhan tersebut dilatar belakangi oleh tindakan sang komandan yang melakukan pelecehan terhadap kehormatan seorang wanita yang meminta pertolongan kepada Syirkuh; maka demi kehormatan dan harga diri, Syirkuh pun membunuhnya.

Peristiwa ini sempat membuat Bahruz bimbang, apakah tetap mempertahankan Najmuddin dan saudaranya, atau memerintahkan mereka segera pergi? Jika ia tetap mempertahankan mereka, timbul kekhawatiran akan adanya belas dendam yang dilakukan oleh para komandan yang lain terhadap mereka, sehingga tidak ada cara lain selain memerintahkan mereka berdua untuk segera meninggalkan Tikrit. Tatkala keduanya disuruh menghadap, Sultan memperlihatkan kekhawatirannya terhadap keselamatan mereka, karena itu mereka diperintahkan untuk segera keluar dari Kota Tikrit pada malam itu juga. Keduanya berangkat menuju Mosul dengan membawa semua keluarga mereka, termasuk putra Najmuddin Ayyub yang baru lahir yakni Salahuddin Al-Ayyubi.

Dalam peristiwa ini menurut Prof. Dr. Ali Muhammad As-shalibi (Salahuddin Al Ayyubi, 2007) salah satu keadaan yang paling disoroti oleh Penulis “Wafayat Al-A’yan” bahwa, Ayyub sempat merasa pesimis terhadap putranya yang baru lahir, Salahuddin. Tersirat di hatinya niat untuk membunuh anak itu ketika ia menangis kencang saat keluar meninggalkan kota. Akan tetapi salah seorang pengikutnya mengingatkan dia akan tindakan itu dan menasehatinya dengan mengatakan : ” Tuanku, saya dapat menangkap perasaan sial dan pesimis Tuan terhadap bayi ini. Akan tetapi dosa apakah gerangan yang telah dilakukannya? Karena alasan apa ia pantas mendapatkan perlakuan yang tidak mendatangkan manfaat dan tidak berguna sedikit pun bagi Tuan? Apa yang terjadi pada dirimu, memang sudah ketentuan dari Allah dan takdir-Nya. Lagipula, siapa tahu kelak bayi ini justru akan menjadi penguasa yang disegani dan mempunyai kedudukan terhormat. Semoga Allah menjadikan untuknya suatu kedudukan, maka biarkanlah dia hidup karena masih bayi, yang tidak memiliki dosa dan tidak mengetahui kesusahan dan kegelisahan yang engkau alami”

Ternyata kata-kata ini memberi pengaruh besar pada diri Ayyub, sehingga ia segera sadar, insyaf dan kembali kepada kebenaran, serta mengikuti jalan Islam yang benar. Sejurus dengan perkataan tersebut 50 tahun kemudian yakni pada hari Jum’at 27 Rajab 583 H atau bertepatan dengan 12 Oktober 1187 M dengan izin Allah dan kemurahannya Kota Baitul Maqdis diserahkan ke tangan Salahuddin Al-Ayyubi oleh Balian setelah sekitar 12 hari dilakukan Blokade pengepungan dan pertempuran yang amat melelahkan antara Mujahidin dan kaum Salibis yang telah menguasai Yerussalem selama lebih dari 88 tahun lamanya.

Seandainya Najmuddin Ayyub pada malam itu benar melakukan niat buruknya untuk menghilangkan nyawa putranya, maka mungkin sejarah tidak akan tertulis sedemikian rupa. Dan masih banyak lagi cerita para figur besar dunia yang awalnya tidak dianggap, diremehkan, mengalami tindakan diskriminatif bahkan di buang dari lingkungannya karena dianggap hanya menjadi beban dan masalah atau bahkan lebih buruk dari itu. Namun takdir Tuhan dan semangat hidup yang amat besar dari para individu hebat tersebut akhirnya mereka mampu membuktikan bahwa ada hal-hal besar berawal dari sesuatu yang mungkin menurut mayoritas orang adalah sampah. Dilain kata juga disebutkan, bahwa ” Sebuah hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar jika dirawat begitu pula sebaliknya “.

Di antara mereka ada Salman Al-farisi , Bilal Bin Rabbah , Thariq bin Ziyad, Justin Bieber, Wilma Rudolph, Martin Luther king dan masih banyak lainnya. Dan dari itu semua didepan mata kita ada anak-anak bangsa, dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, generasi-generasi muda Aceh terutama remaja-remaja di Banda Aceh. Baik itu yang beruntung mengenyam pendidikan maupun yang putus sekolah akibat keadaan yang sama sekali tidak mendukung. Mereka punya hak dan punya masa depan yang lebih layak. Dan lebih dari itu mereka juga punya talenta serta potensi yang mungkin diperebutkan oleh Provinsi bahkan Negara lain. Maka sudah seharusnya kita memberikan ruang khusus untuk berbagi kesempatan baik mereka, disamping mereka suatu saat akan duduk menggantikan posisi kita, mereka juga akan meneruskan apa yang telah kita ajarkan kepada mereka untuk generasi muda selanjutnya.

Jadi, sudah saatnya. Kita bekerja sama, saling menyempurnakan untuk mewujudkan kembali impian para pendahulu dan para orang tua yang sudah tidak dapat lagi melakukan kebijakan karena memang sudah tidak ada lagi apa-apa dalam genggaman kekuasaannya yang dulu sempat beberapa waktu mereka banggakan. Tinggallah dinding penyesalan yang dapat mereka ratapi dipenghujung usianya yang semakin senja tanpa ada satupun yang tahu dimasa depan kalau mereka pernah ada.

*Penulis adalah Ketua DPW ISKADA Kota Banda Aceh

Previous Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *