Kita dan Media Sosial

Oleh: Farah Rozana*

Anggap saja kita baru mengunggah sebuah foto di akun media sosial yang kita miliki. Apa yang akan kita lakukan, beberapa menit setelah mengunggah sebuah umpan di media sosial? Serta, apa yang akan kita rasakan jika 20 menit kedepan kita menyadari bahwa belum ada seorang pun yang mengklik tombol suka pada umpan tersebut? Mungkin saja kita akan marah, gelisah, kesal, atau mungkin berinisiatif untuk menghapus poto tersebut.

ika kita pernah merasakan hal tersebut, bisa dikatakan bahwa kita telah menjadi salah satu pemain dalam huru-hara aplikasi-aplikasi media sosial yang tanpa kita sadari telah mengubah pola hidup dan mindset kita. Bukankah bukan masalah besar jika tidak ada yang menanggapi poto yang kita perlihatkan? Bukankah akan baik-baik saja jika kita tidak memeriksa linimasa dengan begitu seringnya? Kenapa kita justru kesal pada orang-orang yang kita lihat sedang online, namun tidak menggubris umpan yang baru saja kita kirimkan? Kenapa kita dengan senang hati membunuh waktu dengan larut dalam informasi ‘apa -saja’ yang disajikan?

Di era modern ini teknologi telah berhasil melahirkan berbagai aplikasi-aplikasi keren, unik, dan informatif bagi masyarakat. Media sosial seolah akan selalu menjadi salah satu identitas disamping identitas resminya sebagai warga negara. Media Sosial pula, tidak hanya menerobos kaum dewasa namun, masuk pula dalam lapisan remaja, serta anak-anak. Instagram, Facebook, Twitter, hingga akun Wattpad, aplikasi-aplikasi media sosial semacam itu memanglah sangat menarik perhatian kaum millenial.

Namun, sering kali hal ini menyita waktu penggunanya lebih banyak untuk menanggapi notifikasi dan mengamati linimasa. Perlahan tapi pasti hal ini mengubah pola hidup masyarakat, yang mungkin pada awalnya kita akan membaca selembar buku sebelum tidur, kini lebih memilih menatap layar dibawah gelapnya ruangan, mungkin pula kita yang jarang sekali terpapar oleh penilaian orang lain kini dengan mudahnya menemukan kritikan-kritikan tidak menyenangkan di kolom-kolom komentar yang dapat  kita konsumsi setiap hari. Bahkan mungkin, penyampaian pesan yang penuh kesan, tidak akan terjadi lagi disebabkan mudahnya mengetik dan chattingan tanpa perlu menunggu datangnya kiriman surat.

Berubah, perubahan pada pola hidup tidak bisa dipungkiri memang terjadi. Temuan terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pemuda yang berada pada kisaran umur 18-35 tahun saat ini mengalami masalah kesehatan mental yang lebih tinggi dibanding generasi kelahiran tahun 1981-1996. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa evolusi dunia telah membawa manusia pada era teknologi yang serba cepat dan sangat termudahkan, yang tanpa disadari juga telah memerciki dampak-dampak negatif bagi sendi kehidupan manusia.

Dibalik berjayanya media sosial saat ini, banyak bermunculan efek-efek negatif baik bagi kesehatan mental maupun kesehatan fisik. Sebenarnya dampak buruk apa saja yang dapat terjadi? Berikut ulasannya.

a. Kecanduan. Rasa candu pada media sosial akan melahirkan rasa butuh dan ingin dekat setiap saat. Hal ini dapat menyebabkan seorang individu menghabiskan waktunya didepan layar ponsel. Bahkan, dalam kasus yang lebih ekstrim seseorang dapat saja berubah menjadi seseorang yang apatis dan tidak mampu beradaptasi di lingkungan

b. Kurang Bersyukur. Semakin lama waktu kita tersita oleh media sosial, yang memaparkan  banyak kemegahan-kemegahan beberapa orang justru akan membuat kita cenderung kurang bersyukur dan merasa insecure dengan keadaan kita saat ini.

c. membanding-bandingkan. Mungkin saja kita akan mengandai-andai beberapa pemilik akun media sosial yang memiliki postur tubuh yang indah dengan tubuh kita sendiri, atau membandingkan hubungan orang-orang yang terlihat sangat bahagia dengan kita yang sedang berada dalam tahap berjuang. Lalu, bukan tidak mungkin kita merasa pesimis dan menyesali apa yang kita miliki. Yah, ujung-ujungnya pasti kita akan sedih bahkan depresi.

d. kecemburuan sosial. Terkadang kita akan merasa cemburu dengan apa yang ditampilkan oleh orang lain hal ini membuat kita ingin bersaing dan berusaha untuk memamerkan hal-hal yang kita miliki.

e. mudah lelah dan stress. Banyaknya informasi yang kita serap dengan berbagai informasi yang terkadang tidak kita filter, serta kemampuan multi-tasking yang kita lakukan dapat membuat kita lelah dan fikiran yang tidak nyaman.

f. tekanan sosial dari lingkaran teman dekat. Menjadi up-to-date kini rasanya harus dilakukan, jika tidak maka bukan tidak mungkin kita akan mendapat cemooh atau bahkan dijauhi sebab akan dianggap tidak asik oleh teman-teman.

g. mengurangi quality time dengan orang terdekat. Waktu yang tersita dan keengganan untuk menghabiskan waktu bersama didunia nyata, membuat kita akan memiliki jarak dan perlahan-lahan hubungan menjadi tidak lagi akrab dengan keluarga atau sahabat. Hal ini juga akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk membuat kenangan manis bersama.

h. mood tidak stabil. Menjadi media sosial addict pastinya akan membuat kita menyisakan hanya sedikit waktu untuk beristirahat, bahkan jika tubuh telah begitu lelah terkadang kita akan memaksa tubuh untuk tetap berselancar di media sosial. Hal ini cenderung membuat kita bangun kesiangan dengan persiapan yang nihil untuk esok hari, ditambah dengan mengkhawatirkan jumlah like di feed kita. Akhirnya, mood kita tidak stabil dan menempatkan kita dalam keadaan badtempered sepanjang hari.

i. mata lelah. Menatap layar dalam waktu yang lama akan membuat mata lelah bahkan membuatnya kabur.

We are here! Di sini, di era ini, kita tidak dapat menghindari perkembangan dan pesatnya teknologi. Namun, kita bisa menghindari atau mencegah dampak-dampak negatif yang bisa saja terjadi pada kita dan orang-orang sekitar.  Berikut beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk menghindari dampak negatif dari media sosial.

a. memahami dengan benar dampak-dampak yang mungkin akan terjadi dalam penggunaan media sosial. Memahami tujuan serta ketentuan dari media sosial

b. mengikuti atau mengakses situs-situs atau tokoh yang membawa pengaruh positif dan informatif serta sesuai dengan usia

c. mengatur waktu dalam penggunaan media sosial. Serta, mengatur prioritas yang harus dikerjakan agar tidak larut dengan media sosial

d. tidak mengekpos hal-hal yang berbau privasi

e. luruskan niat. Meluruskan niat disini dimaksudkan apabila kita akan membagikan sesuatu hendaklah kita meniatkan untuk membagi informasi atau sekadar membagikan sebuah gambar yang tidak memiliki dampak negatif bagi orang lain. Sehingga, kita tidak akan merasa tertekan dengan keinginan-keinginan yang tidak penting agar dipenuhi seperti keinginan untuk mendapat like yang banyak atau keinginan untuk mendapat pujian

f. jauhkan media sosial pada waktu-waktu tertentu. Mungkin saja kita memiliki tugas yang sangat penting untuk dikerjakan maka akan lebih baik jika kita menjauhkan dahulu media sosial agar tidak terganggu  dan menyebabkan kita menunda pekerjaan.Media sosial is fun! Namun penyalahgunaannya tidak lah baik bagi kita. Sudah saatnya kita menggunakan seperlunya saja, saatnya menghindari toxic lifestyle yang sedang gandrung akhir-akhir ini, sudah saatnya kita cerdas dalam mengontrol hidup kita. Because we deserve to be health and loved baik secara mental maupun secara fisik, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Mari kita cerdas dalam menggunakan media sosial serta mengajak teman-teman untuk bermedia sosial secara sehat.

*Penulis adalah Peserta Pelatihan Jurnalistik Remaja Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *