Abdullah Ujong Rimba sosok Pendiri ISKADA

Oleh Muhammad Syarif, SHI,M.H*

Abdullah Ujong Rimba yang lebih dikenal Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba (THAUR), lahir 1 November 1903 di Desa Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Salah seorang tokoh pendiri ISKADA, beliau adalah ulama yang paling lama menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh. MUI (kini MPU Aceh) adalah sebuah lembaga terhormat dan berpengaruh mengawal pemahaman keagamaan di Aceh. Beliau adalah anak Teungku Haji Hasyim yang merupakan salah satu Qadhi Ulee Balang Peusangan. Beliau juga guru tarekat, ulama berpegang teguh pada manhaj ahlussunnah wal jamaah.

Memulai perjalanan keilmuannya, THAUR, belajar langsung kepada ayahnya yang juga seorang Teungku dan tokoh masyarakat sambil bersekolah dasar atau sekolah Volkschool yang masyhur pada zaman Belanda. Selanjutnya atas keinginannya sendiri beliau mulai belajar di Dayah Ie Leubeue yang dipimpin oleh Teungku Ali, seorang ulama dan pimpinan dayah di Meunasah Blang, Pidie. Kata Ie Leubeue mengingatkan kita pada seorang ulama besar Aceh yang hijrah ke Yan Keudah Malaysia yang merupakan guru dari banyak ulama Aceh termasuk Abu Kruengkalee ialah Teungku Chik Muhammad Arsyad Di Yan yang dikenal dengan Teungku Chik Di Yan yang juga teman dari Teungku Chik Oemar Diyan ayahnya Abu Indrapuri dan Abu Lam U.

Setelah lima tahun THAUR belajar di Dayah Ie Leubeue dan beliau menguasai ilmu-ilmu keislaman dengan baik, kemudian beliau berangkat ke Lamsie Aceh Besar untuk belajar di sebuah dayah yang dipimpin oleh Teuku Panglima Polem Muhammad Daudsyah.Di dayah ini THAUR mempelajari hampir seluruh cabang keilmuan Islam seperti tafsir, hadits, fiqih, dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf. Sekitar tiga tahun beliau berada di dayah ini, kemudian beliau melanjutkan ke Siem di Dayah yang dipimpin oleh Abu Kruengkalee. Di Dayah Abu Kruengkalee yang kini dikenal dengan Pesantren Darul Ihsan Krueng Kalee, telah nampak keulamaan Teungku Ujong Rimba, sehingga beliau kemudian melanjutkan belajarnya ke Kota Mekkah yang merupakan pusat keilmuan dunia Islam pada masa itu.

Pada era tiga puluhan dan empat puluhan, di kota Mekkah masih banyak para ulama dan ilmuan Islam berpengaruh seperti: Syekh Habibullah Syinqiti, Syekh Muhammad Arabi Tabani, Syekh Hamdan al-Mahrusi, Syekh Muhammad Hasan Masyat, Syekh Yahya Aman, Syekh Rahmatullah Hindi dan banyak ulama lainnya. Ketika tiba di Mekkah, sudah ada ulama Aceh yang lebih dahulu dari beliau, berasal dari Tanjungan Samalanga anak dari Abu Idris Tanjungan, gurunya Abu Cot Kuta yaitu Teungku Haji Abdul Hamid atau Ayah Hamid yang mengamankan diri ke Mekkah karena akan ditangkap Belanda, disebabkan keaktifan Ayah Hamid dalam organisasi pergerakan yang dinilai berbahaya oleh Belanda.

THAUR mengembara di Mekkah guna memperdalam ilmunya,di Mekkah beliaupun banyak belajar dan bertukar pikiran dengan Teungku Abdul Hamid Tanjungan terutama mengenai pembaharuan pendidikan dan keadaan pergerakan untuk kemerdekaan. Tidak lama kemudian, pulanglah Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba ke Aceh, dan mulailah berkiprah sebagai seorang ulama dan tokoh yang mengayomi masyarakat.

Beliau dan Teungku Muhammad Daud Bereueh membangun sebuah lembaga pendidikan yang dinamakan dengan Sa’adah Abadiyah (lembaga pendidikan berbasis Pondok Pesantren/Dayah).

Lembaga Pendidikan yang digagas THAUR mendapat pengaruh yang besar, bahkan santrinya berasal dari berbagai kalangan, terutama santri dari Sumatra Barat (Padang), Para pengasuh/gurunya juga ada yang berasal dari Padang. Sebagai seorang yang berteman dengan Teungku Muhammad Daud Bereueh, beliau pernah juga terlibat dalam DII TII selama dua tahun, yang kemudian beliau memutuskan keluar dan tidak mengikuti gerakan tersebut setelah mempertimbangkan banyak hal.

Apalagi ulama seperti Abu Kruengkale, Abuya Muda Waly, Abu Cot Kuta dan ulama lainnya tidak sependapat dengan gerakan tersebut.Sebagai seorang ulama dan pengayom masyarakat, THAUR menduduki banyak jabatan penting di Aceh, beliau pernah menjadi anggota DPA pusat, DPR Aceh sekali dengan Abuya Muhibbuddin Waly, dan pernah pula menjadi kepala mahkamah keagamaan pada masa Jepang. Sedangkan paling lama berkiprah THAUR menjadi Ketua MUI Aceh atau sekarang dikenal dengan MPU Aceh. Sejak tahun 1965 sampai menjelang beberapa bulan sebelum wafatnya beliau di tahun 1982.

THAUR merupakan Ketua MUI Aceh atawa MPU Aceh yang pertama, wafat pada 11 September 1983 di Pidie, kurang lebih saat berumur 80 Tahun. THAUR juga seorang penulis yang telah menghasilkan beberapa karyanya dalam bidang Tasawuf dan pemurniannya. THAUR yang telah menulis beberapa buku untuk memurnikan ajaran tasawuf dari pemahaman tasawuf yang melenceng seperti ‘salek buta’. Menurut beliau ada titik persamaan antara tasawuf yang berkembang pada abad 20 dengan tasawuf yang berkembang pada abad 16-17. Sebagaimana telah diketahui bahwa pada era Teungku Abdullah Ujong Rimba muncul beberapa aliran tasawuf yang menurutnya telah menyimpang dari aliran tasawuf sebenarnya. Munculnya aliran salik buta yang dipelopori oleh Tgk. Ibrahim Julok Idi Cut Aceh Timur, Tgk. Peunadok dan Tgk. Teureubue ‘Id di Teupin Raya Pidie.Ajaran yang dikembangkan oleh tiga tokoh tersebut diasumsikan sebagai ajaran yang dibentuk dan diturunkan dari paham wahdat al-wujud, sehingga disebut dengan ajaran salik buta. Oleh karena itu, paham tersebut mendapat kritikan dari beliau.

Di antara buku-buku pemurnian Tasawuf dan Tarekat yang disusun THAUR adalah; Pedoman Penolak Salik Buta, Ilmu Tarekat dan Hakikat, Hakikat Islam. Konsep tasawuf THAUR tidak jauh berbeda dari tasawuf Imam al-Ghazali dan Imam al-Qusyairi yang lebih mengarah ke tasawuf akhlaki dan sunni.Beliau juga membagi tarekat ke dalam tiga kelompok; Nabawiyah, Salafiyah, Sufiyah. Dua yang pertama sesuai syariat sedangkan tarekat Sufiyah menurutnya sesat menyesatkan. THAUR mengkritik ajaran tasawuf, terutama kritik terhadap kaum wujudiyah dan ‘salek buta’ yang berkembang pada abad 16-17 dan pada abad 20. Ajaran wahdat wujud ini berasal dari pemikiran tasawuf falsafi. Sedangkan pemikiran tasawuf pada abad ke-20 yang disebut dengan salik buta dianalisa memiliki kemiripan dengan ajaran wujudiyah yang terdapat pada abad 16-17.

THAUR mengkritik secara tajam pemahaman salek buta baik itu dari asal-muasal ajaran salek buta, kritik terhadap amalan salek buta, simbolisme huruf, syair-syair dan pemakaiannya, kritik terhadap martabat tujuh, kritik terakhir menyangkut hubungan syariat dengan tasawuf. baginya syariat tidak bisa dipisahkan dari hakikat, dan makrifat. Jadi tasawuf tidak dianggap benar apabila ia terlepas dari aturan syariat yang benar. Beliau sangat keras mengkritik kaum salek buta bahkan menganggap mereka sesat. Kiprahnya dalam pemurnian ajaran Islam di Aceh tidak diragukan, bahkan untuk menghargai jasanya maka aula pertemuan ulama di MPU Aceh dinamakan dengan Aula Abu Ujong Rimba.

Tahniah Milad ISKADA ke-48 Tahun (5 Februari 1973-5 Februari 2021), selamat jalan guru, walau kami tidak pernah berjumpa secara langsung denganmu, salah seorang pendiri ISKADA, kami yakin kiprahmu sungguh luar biasa, setidaknya itulah yang kami dengar dari alm. Ayahanda A.Rahman Kaoy (pendiri ISKADA) saat kami mengikuti training ISKADA,yang kala itu sedang studi pada Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry di saat jayanya ISKADA di Tanah Rencong.

*Penulis adalah Sekjen DPP ISKADA Aceh, kader binaan alm A.Rahman Kaoy salah seorang murid Abdullah Ujong Rimba

Previous Article
Next Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *